Bersuci Dalam Tinjauan Syariat

0
152

I. PEMBUKAAN

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, salam dan shalawat kami kirimkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, keluarganya, para sahabatnya dan kepada semua yang komitmen mengikuti ajarannya dan mengamalkan sunnah-sunnahnya.

Diantara tanda-tanda keshalihan dan keutamaan seseorang adalah dijadikannya paham tehadap ajaran agama Islam. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, barangsiapa yang dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah maka ia dijadikan paham terhadap agama Islam.”

Karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam banyak haditsnya memotivasi dan menganjurkan umatnya untuk banyak mengajarkan ilmu fiqh kepada manusia dan mempermudah mereka mempelajari ilmu fiqh  dan bersuci adalah hal yang penting untuk kita pelajari, karena terkait dengan kehidupan sehari-hari. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Allah sangat bergembira melihat seorang hamba yang gemar mendengar perkataanku lalu ia memahami dan menghafalkannya serta menyampaikannya.

  1. PENTINGNYA BERSUCI DALAM ISLAM

Pembahasan masalah thaharah di dalam ilmu fikih ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena itu para ulama ahlu fikih selalu menempatkan bab thaharah ini di awal pembahasan. Ada beberapa sisi penting kenapa kita harus mempelajari dan memahami bab thaharah (bersuci) ini.

  1. Thaharah merupakan syarat sahnya shalat, tidak sah shalat seseorang tanpa didahului dengan bersuci, Rasulullah –Shalallahu ‘Alaihi Wasallam– bersabda :

 لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats sampai dia berwudhu” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

  • Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang suka bersuci, Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang bersuci.” (Q.S Al-Baqarah : 222)

Dan Allah Ta’ala memuji para penduduk masjid Quba, karena penduduknya orang-orang yang suka bersuci, Allah Ta’ala berfirman,

لَمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ

“Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang suka membersihkan diri (bersuci). Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. at-Taubah: 108)

  • Sesungguhnya orang yang enggan untuk bersuci dari najis yang nampak, akan menyebabkannya diadzab di kubur, dan ini adalah merupakan penyebab terbesar dari seseorang diadzab di kuburnya, dalam sebuah hadist diceritakan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ :« إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ »

               Dari Ibnu Abbas beliau menuturkan : bahwa suatu hari Rasulullah –Shalallahu ‘Alaihi Wasallam– melewati dua kuburan, maka Rasulullah –Shalallahu ‘Alahi Wasallam– bersbada : “Sesungguhnya dua penghuni kubur ini benar-benar sedang diadzab, dan sesungguhnya keduanya tidak diadzab dalam perkara yang besar, adapun salah satu diantara keduanya adalah suka berbuat namimah (mengadu domba), dan yang satunya lagi tidak membersihkan kencingnya.” (HR.Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Dari dali-dali di atas, maka tidak sepatutnya seorang muslim meremehkan perkara-perkara seputar thaharah dan bagaimana agar mempelajarinya dengan baik dan sungguh-sungguh.

  1. DEFINISI BERSUCI SECARA BAHASA DAN ISTILAH

Thaharah secara bahasa artinya bersuci atau menghilangkan kotoran. Adapun secara syar’i yang dimaksud ialah menghilangkan najis atau kotoran dengan air dan debu (tanah) yang suci lagi menyucikan dengan tata cara yang telah ditentukan oleh syari’at.

  1. PENGERTIAN HADATS DAN MACAM-MACAMNYA

Hadats adalah sesuatu yang melekat pada tubuh seorang muslim yang menyebabkannya terhalang melaksanakan ibadah sebelum ia bersuci seperti shalat, thawaf, dan lain-lain.

Hadats terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

  • Hadats Kecil

Yaitu kondisi yang mengharuskan seseorang berwudhu (sebelum melaksanakan ibadah) seperti buang air kecil, buang air besar, dan pembatal wudhu lainnya.

  • Hadats Besar

Yaitu kondisi yang mengharuskan seseorang mandi (sebelum melaksanakan ibadah) seperti junub, haid, dan lainnya.

  • CARA BERSUCI DARI HADATS KECIL

Bagi seseorang yang berhadats kecil, maka cara bersucinya adalah dengan berwudhu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka cucilah muka-muka kalian dan tangan-tangan kalian sampai ke siku, usaplah kepalamu dan cucilah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki” [QS. Al Maidah: 6].

  • CARA BERSUCI DARI HADATS BESAR

Bagi yang berhadats besar, maka disyariatkan untuk mandi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kamu junub maka mandilah …” (QS. Al Maidah: 6).

  • MACAM-MACAM NAJIS DAN CONTOHNYA

Najis menurut bahasa adalah kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’I adalah kotoran yang wajib dicuci menurut perintah syari’at.

Berikut adalah macam-macam najis beserta contohnya.

  • Air Kencing dan Kotoran Manusia
  • Darah Haid
  • Air Kencing dan Kotoran Binatang yang Haram Dimakan
  • Bangkai
  • Daging Babi
  • Liur Anjing
  • Madzi
  • Wadi
  • CARA MENSUCIKAN NAJIS

Berikut adalah beberapa cara membersihkan najis.

  • Cara Membersihkan Lantai yang Terkena Najis

Jika ada najis yang menempel pada tanah, maka dibersihkan dengan air atau yang lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, takkala ada seorang Arab Badui yang tiba-tiba kencing di salah satu pojok masjid, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

“Biarkan dia dan siramlah kencingnya tersebut dengan segayung atau bejana air.”

  • Cara Membersihkan Air yang Tercampur dengan Najis

Air tersebut menjadi bersih setelah disiram dengan air dalam jumlah yang banyak sampai bekas-bekas najis tidak terlihat lagi. Ia juga dapat dibersihkan dan disucikan dengan melakukan filterisasi menggunakan teknologi modern.

  • Cara Membersihkan Pakaian yang Terkena Najis

Pakaian tersebut dicuci dengan air dan disikat atau diperas sampai najisnya hilang.

  • Cara Membersihkan Tempat Tidur (Tikar)

Tikar dicuci dengan air atau deterjen lalu disikat sampai najisnya hilang

  • Cara Membersihkan Kulit Bangkai

Jika kulit bangkai adalah dari binatang yang halal dimakan maka dapat dibersihkan dengan disamak. Adapun binatang halal yang bukan bangkai dan matinya karena disembelih dengan cara syar’I maka kulitnya suci dan bersih.

Sedangkan jika kulit bangkai binatang yang haram dimakan, maka tidak dapat disucikan dengan disamak.

  • Cara Membersihkan Air Kencing Bayi Laki-laki dan Bayi Perempuan yang Belum Makan.

Kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan kencing bayi laki-laki cukup dengan dipercikkan air.

  • Cara Membersihkan Bekas Jilatan Anjing

Tempat bekas jilatan anjing harus dicuci sebanyak tujuh kali, cucian pertamanya dengan tanah.

  • Cara Membersihkan Madzi dan Wadi

Diawali dengan mencuci kemaluan lalu berwudhu dan membersihkan pakaian yang terkena madzi atau wadi cukup dengan memercikkan air ke tempat yang terkena madzi atau wadi tersebut.

  • Cara Membersihkan Darah Haid

Darah haid dicuci dengan air. Apabila meninggalkan bekas yang tersisa maka tidak mengapa. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “cukup siram dengan air dan kalau masih tersisa bekasnya maka tidak mengapa.” (H.R. Abu Dawud)

  • Cara Membersihkan Sandal atau Sepatu

Sandal atau sepatu digosokkan ke tanah sampai hilang najisnya, Cara Membersihkan Jubah (pakaian panjang) Wanita.

Jika pakaian wanita tersebut panjang, maka ia cukup berjalan di tempat yang bersih. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Tanah yang setelahnya akan membersihkannya.” (H.R. Abu Dawud)

  • Cara Membersihkan Makanan yang Telah Membeku

Dengan membuang najis dan makanan di sekitarnya, sisanya dianggap telah suci dan boleh dikonsumsi.

  • Cara Membersihkan Permukaan Benda yang Licin seperti Cermin atau Botol

Benda-benda tersebut cukup di lap hingga najisnya hilang.

III. PENUTUP

Demikian pemaparan kami, semoga bermanfaat, mohon maaf jika banyak kekurangan. Kesempurnaan adalah milik Allah dan kekurangan adalah dari diri kami yang lemah dan was-was syaithan laknatullah ‘alaihi.

IV. DAFTAR PUSTAKA

Bahammam, Abdullah Salim Umar (2014) Fiqh Ibadah Bergambar. Jakarta, Mutiara Publishing

Majalah Fatawa 02. (2002) Thaharah atau Bersuci (Online). Available at  https://almanhaj.or.id/585-thaharah-atau-bersuci.html. Accessed on 14 th Januari 2019, 10.00pm.

Zamzani, Muhammad. (2015) Keutamaan Mempelajari Thaharah (Online). Available at http://www.muliarabbani.com/keutamaan-mempelajari-thaharah/. Accessed on 13 th Januari 2019, 23.00pm

Ubaidillah, Abu. (2016) Dalil-Dali Disyariatkan Wudhu (Online). Available at http://abuubaidillah.com/dalil-dalil-disyariatkannya-wudhu.Accessed on 13 th Januari 2019, 23.05

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here