Tafsir Surah Yaasin Ayat 22-23

0
96

CATATAN MAHASISWA

MATA KULIAH TAFSIR ( 201)

OLEH:

INDRI HENDAYANTI ( SPRING 2018)

وَمَا لِىَ لَآ أَعْبُدُ ٱلَّذِى فَطَرَنِى وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?.”

(Q.S. Yaasin: 22)

Orang shalih ini terus mendakwahkan kepada kaumnya dengan lemah lembut dan masuk akal. Dia menggunakan Bahasa yang sangat indah. Dia tidak mengatakan “Mengapa kamu tidak menyembah” sebagaimana kenyataannya memang seperti. Namun dia menggunakan bahasa yang baik dengan berbicara tentang dirinya sendiri dengan mengatakan, “Mengapa aku tidak menyembah.”

Kemudian orang shalih ini kemudian memberi bukti masuk akal selanjutnya mengapa harus menjawab seruan para Rasul untuk beribadah hanya kepada Allah. Menyembah Dia yang menciptakan manusia adalah logis dan alami dan melakukan hal selainnya adalah tidak logis dan tidak wajar.

Dari sini kita melihat sikap hikmah dari orang shalih ini dalam berdakwah dengan menggunakan Bahasa yang lembut dan tidak menghakimi justru menggunakan Bahasa yang menunjukan pada dirinya sendiri.

ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدْنِ ٱلرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّى شَفَٰعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَلَا يُنقِذُونِ

“Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?.” (Q.S. Yaasin: 23)

Orang mukmin shalih yang berasal dari batas luar kota ini terus mengemukakan alas an di hadapan kaum-nya dengan mengatakan dengan bahasa yang sangat menggugah jiwa, “ Mengapa aku harus menyembah tuhan-tuhan selain-Nya (Allah)?”.

Pertanyaan retoris ini adalah teguran halus lagi terhadap penyembahan berhala oleh kaumnya. Dia sebenarnya menanyakan mereka tentang mengapa mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah yang menciptakan mereka. Tidak ada dasar yang kuat untuk menyembah makhluk. Itu sebuah kesalahan. Kaumnya menyembah berhala dengan menggunakan dalil sebagai pembenaran bahwa itu merupakan warisan dari nenek moyang mereka.  Walau peribadatan nenek moyang mereka ini batil namun mereka mengikutinya secara membabi buta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
            وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here