Singgasana Kesultanan Kutai 👑 (2)

0
18

Oleh: Indri Hendayanti

“Bismillah…” ucap Khawlah ketika memasuki pintu masuk gedung utama Museum Mulawarman sambil memandangi sekelilingnya.

Gedung utama museum Mulawarman ini dulunya adalah istana Kesultanan Kutai Kertanegara yang kemudian dijadikan museum oleh pemerintah.

Mata Khawlah langsung tertuju pada sebuah singgasana sultan yang biasa hanya dia lihat di buku atau televisi.

Museum Mulawarman menyimpan benda-benda bersejarah yang pernah digunakan oleh Kesultanan Kutai. Salah satunya adalah singgasana sultan berwarna kuning yang diapit oleh dua patung Lembuswana.

Di belakang singgasana sultan terdapat gambar sultan Kutai ke-17 yaitu AM. Sulaiman dan sultan ke-18 yaitu AM. Alimoeddin.

“Masyaallah, singgasananya cantik ya, Bu!” seru Khawlah takjub.

“Iya, Masyaallah” seru Kakak Khansa’ juga.

“Iya, ini adalah singgasana Kesultanan Kutai Kertanegara yang dibuat oleh seorang Belanda dengan gaya Eropa.” jelas Ibu.

“Dulu, singgasana ini adalah tempat duduk Sultan Kutai dan Permaisurinya. Kursinya walau terbuat dari kayu namun dudukan dan sandarannya dilapisi kapuk yang terbungkus kain kuning sehingga kursi dan sandarannya terasa lembut,” tambah Ayah.

Selama ini mungkin kita hanya mengetahui kerajaan-kerajaan yang populer di luar negeri seperti kerajaan Arab Saudi, Inggris, dan yang terdekat, semisal kesultanan Brunei Darussalam dengan raja, ratu serta pangeran dan putri-putri mahkotanya.

Padahal, Indonesia juga memiliki banyak kerajaan dengan kisah-kisah sejarahnya yang menarik dan luar biasa. Salah satunya adalah kerajaan tertua di Indonesia ini, yaitu Kesultanan Kutai.

“Wah, Masyaallah… ruangan ini indah, ya, Ayah!, ada juga kursi-kursi para menteri, mahkota sultan, meriam dan juga Lembuswana!” seru Khawlah.

“Lihat!, itu ada payung kebesaran sultan juga.” Seru Kakak Khansa’.

“Iya, ruangan ini bisa kita sebut sebagai bagian kesultanan karena di sini terdapat benda-benda kesultanan Kutai yang bersejarah.” ujar Ayah.

Khawlah dan Kakak Khansa’ berkeliling menyusuri setiap benda-benda bersejarah kerajaan sambil membaca setiap tulisan yang tertulis di masing-masing benda.

Berkunjung ke museum memang menyenangkan. Selain sebagai tempat wisata, kita juga bisa memperoleh banyak pengetahuan tentang sejarah dan kejadian di masa lampau.

“Permisi, Assalamu’alaikum, Dik”, ucap seorang perempuan muda menghampiri Khawlah yang sedang berdiri memandang singgasana sultan.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, Kak. Ada apa ya?” jawab Khawlah.

“Perkenalkan saya, Gusti Dini, pemandu museum ini, silakan jika adik ingin bertanya tentang benda-benda dan yang lainnya”, jawab perempuan muda itu dengan ramah sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Oh, iya, Kak, terima kasih. Senang bisa bertemu Kakak pemandu museum.” jawab Khawlah sambil tersenyum menyodorkan juga tangannya untuk bersalaman.

“Yuk, kita masuk ke ruangan yang lain. Ada banyak lagi benda-benda koleksi museum lainnya.” ajak Kak Gusti Dini kepada Khawlah dan Kakak Khansa’.

“Yuk, Ayah, Ibu, kita lihat-lihat ruangan itu!” tunjuk Khawlah pada ruangan lain yang tidak kalah menariknya dari ruangan pertama.

Ayah, Ibu, Khawlah dan Kakak Khansa’ kemudian mengikuti Kak Gusti Dini menuju ruangan itu dengan penuh semangat.

Bersambung, Insyaallah…

Editor: Dian Hardiana Hendrawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here