Belajar Kesultanan Kutai di Museum Mulawarman (5)

0
7

Bagian 5
Lorong Rahasia

Museum Mulawarman menyimpan benda-benda bersejarah yang membuktikan bahwa di Kalimantan Timur pernah ada kerajaan tertua di nusantara, yaitu Kerajaan Kutai.

Khansa’ dan Khawlah beserta Ayah, Ibu melihat banyak sekali peninggalan kerajaan di museum. Salah satunya Yupa, yaitu tiang batu yang bertuliskan informasi Kerajaan Kutai, Ketopong Sultan yang terbuat dari emas dan dilengkapi permata, kura-kura emas hadiah dari pangeran Cina kepada putri Raja Kutai dan banyak lagi benda-benda bersejarah lainnya.

“Yah, anak-anak ke mana ya?,” tanya Ibu setelah puas mengambil gambar sambil melihat sekeliling aula yang mulai ramai pengunjung.

“Anak-anak bersama pemandu museum tadi katanya mau melihat keramik dan guci-guci di ruang bawah tanah,” jawab Ayah sambil menunjuk arah tangga ruang bawah tanah.

“Kita susul anak-anak, yuk!” ucap ibu sambil bergegas menuju tangga.

Ayah dan Ibu kemudian menuruni tangga kayu yang tidak terlalu besar, agak curam dan ada belokan di beberapa tempat.

Setelah menelusuri lorong-lorong, Ayah dan Ibu mendapati Kak Dini sedang berbicara dengan seorang pengunjung lainnya, sementara Khansa’ dan Khawlah sedang berjalan menuju suatu lorong lainnya.

“Sayang, kalian mau kemana?,” seru Ibu kepada Khansa’ dan Khawlah.

“Ayah, Ibu, di sini sepertinya ada lorong rahasia,” bisik Khawlah penuh rasa ingin tahu . Khawlah dan Khansa’ terus berjalan menuju lorong itu.

“Nak, Yuk kita kembali ke atas, ruangan ini pengap dan gelap,” ajak Ayah.

Ruang bawah tanah ini menyajikan koleksi ratusan keramik kuno buatan Cina, Thailand, Vietnam, Jepang, dan Eropa.

Di ruangan bawah tanah ini juga banyak patung yang membuat suasana terasa semakin pengap dan tidak nyaman.

“Dulu, kakekmu pernah bercerita bahwa memang ada lorong rahasia yang tembus menuju pulau Kumala dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk lorong rahasia itu.” Ibu menjelaskan kisah turun temurun yang diceritakan oleh kakek.

“Kalian anak-anak pemberani ya! Tidak banyak orang yang menyukai berjalan di lorong bawah tanah ini, masyaallah.” puji
Ayah tersenyum.

“Kita, kan, selalu membaca dzikir pagi dan petang, Yah. Kita yakin Allah selalu menjaga jadi kita tidak boleh takut!” jawab Kakak Khansa’.

“Alhamdulillaah,” ucap Ibu senang mendengar jawaban Kakak Khansa’.

“Iya, anak salihah yang bertauhid, tidak boleh takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.” ujar Ayah sambil mengacungkan satu jari telunjuk dan menepuk pundak Kakak Khansa’.

“Eh, itu ada cahaya, sepertinya lorong ini menuju jalan keluar, Yah!” seru Khawlah.

“Oh, iya, Yuk kita terus jalan ke sana!” seru Ayah.

Ternyata lorong tersebut merupakan jalan keluar Museum dari bawah tanah. Begitu sampai di luar Museum Mulawarman, ada sebuah bangunan kayu yang tak lain adalah kompleks makam Sultan dan para kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Disini dapat dijumpai makam pendiri kota Tenggarong Aji Imbut gelar Sultan AM Muslihuddin, makam Sultan AM Sulaiman dan Sultan AM Parikesit.

“Alhamdulillaah, kita sampai juga keluar, di sini udaranya lebih segar,” kata Khawlah sambil menghirup dalam-dalam udara luar Museum Mulawarman karena merasa sangat pengap ketika berada di lorong bawah tanah tadi.

“Ibu, di situ ada makam para raja dan toko cinderamata yang menjual pernak-pernik dan souvenir manik-manik, Yuk kita lihat-lihat!” ajak Khawlah yang masih bersemangat untuk melihat budaya dan sejarah Kesultanan Kutai.

Bersambung, Insyaallah…

Oleh: Indri Hendayanti
Editor: Ruvianty ‘Evie’ Rahadian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here